sastra
berkreasi lewat mimpi, berinovasi lewat karya
Rabu, 11 Agustus 2010
Selasa, 06 Juli 2010
para pencari Tuhan
MALAM ISRA’
Farhan Addaumi Alfaryany
Gemerincing lonceng jam tua semakin menderu
Deru angin rajab yang semakin menusuk
Menusuk sadri, memukul iga
jazirah hitam di bulan rajab.
Gemerlap bintang menyampaikan
shalawat ummat atas Muhammad...
Suara iblis meraung
dingin...
gemetar...
lapar...
dalam usus terkapar.
Malam itu 27 bulan rajab
Semua tertunduk dalam tinggi-Nya
Semua menangis dalam kebahagiaannya
Para malaikat menutup doanya:
Semoga selamat anak dunia
Dunia berubah malu
ketika anak-anaknya
tak lagi mengenal Muahammad...
Ketika anak-anak dunia trerlarut
dalam benak-benak maksiat.
Mereka menunutup salam.
Malam itu...
sampai juga ke tanah masyriq.
JAWABKU
Create by; Farhan Addumi Alfarsyany
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang kulihat.
Jawabku:
Bintang yang gelap berhenti bersinar.
Malam yang bercahaya runtuh
dalam sepinya kehidupan.
Riuh ombak mengejar dermaga
dalam sunyinya camar.
Para musafir yang kebingungan
dalam hausnya peta.
Kala mereka bertanya kepadaku
Tetang apa yang ku rasa.
Jawabku:
Dinginnya salju menitipkan
pesan rindu pada teriknya mentari.
Hangatnya tungku menyampikan
salam cinta pada merahnya bara.
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang ku pikirkan.
Jawabku:
Mengapa pintu tertutup
ketika pertolongan begitu dielukan?
Menagapa begitu bersyarat
ketika api melahap kayu
yang basah karena hujan semalaman?
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang ku harapkan.
Jawabku:
Biarkan berlau semua
sampai jiwa
berhenti melihat,
berhenti merasa,
berhenti bertanya.
Pasca Kematian Tuhan
Create by; Farhan Addumi Alfarsyany
Kayu yang basah
karena hujan semalaman
kini masih terbujur kaku
di halaman depan rumah tak bertuan.
Pipit yang bernyanyi riang
karena kuningnya padi
kini harus mengalah pada musim
karena semua keindahan
sudah direnggut nyawanya.
Malam yang sunyi dari bait-bait suci
terus meronta dalam
kejamnya rotasi tangan
para pembunuh Tuhan.
Rona pesta kematian Tuhan
terus mempesona
di setiap gemerlapnya kota dan desa.
Meja-meja santapan benak Tuhan
masih tersusun rapi
dalam setiap senandung para pembunuh Tuhan.
Isak tangis para penziarah
terus menggema hingga
memecahkan gendang telinga.
Rumah tak bertuan
Saksi bisu kematian Tuhan.
Malam menyimpan bintang
Siang menyembunyikan mentari.
Taburan bunga di pusaran Tuhan
bukti Tuhan benar-benar sudah mati.
Farhan Addaumi Alfaryany
Gemerincing lonceng jam tua semakin menderu
Deru angin rajab yang semakin menusuk
Menusuk sadri, memukul iga
jazirah hitam di bulan rajab.
Gemerlap bintang menyampaikan
shalawat ummat atas Muhammad...
Suara iblis meraung
dingin...
gemetar...
lapar...
dalam usus terkapar.
Malam itu 27 bulan rajab
Semua tertunduk dalam tinggi-Nya
Semua menangis dalam kebahagiaannya
Para malaikat menutup doanya:
Semoga selamat anak dunia
Dunia berubah malu
ketika anak-anaknya
tak lagi mengenal Muahammad...
Ketika anak-anak dunia trerlarut
dalam benak-benak maksiat.
Mereka menunutup salam.
Malam itu...
sampai juga ke tanah masyriq.
JAWABKU
Create by; Farhan Addumi Alfarsyany
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang kulihat.
Jawabku:
Bintang yang gelap berhenti bersinar.
Malam yang bercahaya runtuh
dalam sepinya kehidupan.
Riuh ombak mengejar dermaga
dalam sunyinya camar.
Para musafir yang kebingungan
dalam hausnya peta.
Kala mereka bertanya kepadaku
Tetang apa yang ku rasa.
Jawabku:
Dinginnya salju menitipkan
pesan rindu pada teriknya mentari.
Hangatnya tungku menyampikan
salam cinta pada merahnya bara.
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang ku pikirkan.
Jawabku:
Mengapa pintu tertutup
ketika pertolongan begitu dielukan?
Menagapa begitu bersyarat
ketika api melahap kayu
yang basah karena hujan semalaman?
Kala mereka bertanya kepadaku
Tentang apa yang ku harapkan.
Jawabku:
Biarkan berlau semua
sampai jiwa
berhenti melihat,
berhenti merasa,
berhenti bertanya.
Pasca Kematian Tuhan
Create by; Farhan Addumi Alfarsyany
Kayu yang basah
karena hujan semalaman
kini masih terbujur kaku
di halaman depan rumah tak bertuan.
Pipit yang bernyanyi riang
karena kuningnya padi
kini harus mengalah pada musim
karena semua keindahan
sudah direnggut nyawanya.
Malam yang sunyi dari bait-bait suci
terus meronta dalam
kejamnya rotasi tangan
para pembunuh Tuhan.
Rona pesta kematian Tuhan
terus mempesona
di setiap gemerlapnya kota dan desa.
Meja-meja santapan benak Tuhan
masih tersusun rapi
dalam setiap senandung para pembunuh Tuhan.
Isak tangis para penziarah
terus menggema hingga
memecahkan gendang telinga.
Rumah tak bertuan
Saksi bisu kematian Tuhan.
Malam menyimpan bintang
Siang menyembunyikan mentari.
Taburan bunga di pusaran Tuhan
bukti Tuhan benar-benar sudah mati.
Langganan:
Postingan (Atom)